Allah SWT “Apakah kamu merasa kasihan saat mencabut nyawa hamba-hambaku ?”
Izrail
“Ya Allah, sepanjang masa aku merasa kasihan kepada hamba-hamba Mu.
Ketika aku mendatangi sebuah rumah dan harus mencabut nyawa sang ayah,
sementara anak-anaknya masih balita. Aku merasa kasihan kepada mereka.
Terkadang aku harus mencabut nyawa seorang pemuda di hadapan ayah dan
ibunya, sementara mereka sangat mencintainya. Aku merasa kasihan kepada
mereka. Ketika aku mencabut nyawa seorang ibu sedang anak-anaknya yang
masih kecil berkumpul mengelilinginya sambil menangis. Kematian sang
ibu menyebabkan anak-anak kecil itu menjadi yatim”
“Namun,
apa yang dapat aku lakukan dihadapan perintah Mu ? Tidak mungkin aku
menunda perintah Mu. Jadi aku merasa kasihan kepada semua makhluk Mu”
Allah SWT “(Saat melaksanakan tugasmu mencabut nyawa) siapakah di antara hamba-hambaku yang membuatmu lebih merasa kasihan ?”
Izrail
“Ketika sebuah kapal berlayar ditengah lautan. Engkau memerintahkanku
untuk menenggelamkan semua penumpangnya, kecuali seorang wanita dan
bayinya yang baru lahir. Engkau perintahkanku untuk membiarkannya tetap
hidup. Wanita itu meletakkannya di dalam secarik kain. Kemudian tak
lama setelah itu, Engkau perintahkan aku untuk mencabut nyawa sang ibu.
Maka, tinggallah bayi itu sendirian. Aku merasa kasihan terhadap bayi
itu sedang ombak lautan mengguncang bayi itu kesana-kemari. Hatiku
sungguh sangat iba terhadapnya”
Allah
SWT “Wahai Izrail ! Apakah kau tahu apa yang aku lakukan terhadap bayi
itu ? Aku perintahkan ombak lautan untuk membawa bayi itu menuju ke
sebuah pulau yang air dan udaranya bersih. Aku perintahkan angin untuk
tidak mengguncang bayi itu. Aku perintahkan awan untuk tidak menurunkan
hujan. Aku perintahkan matahari untuk tidak sampai membakar bayi itu
dengan teriknya”..
“Sesampainya
di pulau, ada seekor harimau yang baru saja melahirkan, maka aku
perintahkan harimau itu untuk menyusuinya. Harimau itu-pun menyusuinya
hingga ia tumbuh menjadi besar sebagai seorang anak yang pemberani”
“Saat
anak itu sudah dewasa, sebuah kapal melintasi pulau itu. Aku benihkan
rasa kasih kepada penumpang kapal itu agar mereka menyukainya.
Mereka-pun mengambilnya dan membawanya ke kota. Wahai Izrail ! Dengan
perjalanan waktu dan upaya yang gigih, anak itu akhirnya menjadi seorang
raja. Namun dia ingkar dan menampakkan permusuhan denganku. Aku utus
Ibrahim supaya mengenalkan padanya tentang Aku. Akan tetapi Raja Namrud
itu malah berkata “Aku adalah tuhan bumi dan aku menyatakan perang
terhadap tuhan langit !”
Seorang
raja sombong yang mengaku sebagai tuhan diakhiri hidupnya oleh Allah
dengan seekor nyamuk yang nemplok di bibirnya. Namrud ingin mengusirnya
dengan meniup bibirnya, namun nyamuk itu malah masuk ke dalam
hidungnya. Namrud berusaha mengeluarkannya lagi, namun nyamuk tersebut
malah naik bersama nafasnya dan terbang berkelana menyiksa benak Namrud
hingga dia mati.
“Wahai
anak Adam, betapa seringnya kalian melupakan Ku dan kafir kepada Ku.
Aku tidak pernah berbuat aniaya terhadap hamba-hamba Ku. Sampai kapankah
kaliyan mengingkari nikmat-nikmat Ku, sementara rezeki kaliyan
menghampiri kalian setiap hari dari sisi Ku.
Sampai
kapankah kalian akan mengingkari ketentuan-ketentuan Ku, padahal tidak
ada tuhan melainkan Aku ? Sampai kapankah kalian akan melupakan Aku,
padahal Aku tidak pernah melupakan kalian ? Apabila kalian mencari
seorang tabib untuk mengobati sakit pada tubuh kalian, lantas, siapakah
yang akan menyembuhkan kalian dari dosa-dosa kalian ?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar