Sabtu, 25 Agustus 2012

Allah Dan Izra'il

 
Allah SWT “Apakah kamu merasa kasihan saat mencabut nyawa hamba-hambaku ?”

Izrail “Ya Allah, sepanjang masa aku merasa kasihan kepada hamba-hamba Mu. Ketika aku mendatangi sebuah rumah dan harus mencabut nyawa sang ayah, sementara anak-anaknya masih balita. Aku merasa kasihan kepada mereka. Terkadang aku harus mencabut nyawa seorang pemuda di hadapan ayah dan ibunya, sementara mereka sangat mencintainya. Aku merasa kasihan kepada mereka. Ketika aku mencabut nyawa seorang ibu sedang anak-anaknya yang masih kecil berkumpul mengelilinginya sambil menangis. Kematian sang ibu menyebabkan anak-anak kecil itu menjadi yatim”
“Namun, apa yang dapat aku lakukan dihadapan perintah Mu ? Tidak mungkin aku menunda perintah Mu. Jadi aku merasa kasihan kepada semua makhluk Mu”
Allah SWT “(Saat melaksanakan tugasmu mencabut nyawa) siapakah di antara hamba-hambaku yang membuatmu lebih merasa kasihan ?”
Izrail “Ketika sebuah kapal berlayar ditengah lautan. Engkau memerintahkanku untuk menenggelamkan semua penumpangnya, kecuali seorang wanita dan bayinya yang baru lahir. Engkau perintahkanku untuk membiarkannya tetap hidup. Wanita itu meletakkannya di dalam secarik kain. Kemudian tak lama setelah itu, Engkau perintahkan aku untuk mencabut nyawa sang ibu. Maka, tinggallah bayi itu sendirian. Aku merasa kasihan terhadap bayi itu sedang ombak lautan mengguncang bayi itu kesana-kemari. Hatiku sungguh sangat iba terhadapnya”
Allah SWT “Wahai Izrail ! Apakah kau tahu apa yang aku lakukan terhadap bayi itu ? Aku perintahkan ombak lautan untuk membawa bayi itu menuju ke sebuah pulau yang air dan udaranya bersih. Aku perintahkan angin untuk tidak mengguncang bayi itu. Aku perintahkan awan untuk tidak menurunkan hujan. Aku perintahkan matahari untuk tidak sampai membakar bayi itu dengan teriknya”..
“Sesampainya di pulau, ada seekor harimau yang baru saja melahirkan, maka aku perintahkan harimau itu untuk menyusuinya. Harimau itu-pun menyusuinya hingga ia tumbuh menjadi besar sebagai seorang anak yang pemberani”
“Saat anak itu sudah dewasa, sebuah kapal melintasi pulau itu. Aku benihkan rasa kasih kepada penumpang kapal itu agar mereka menyukainya. Mereka-pun mengambilnya dan membawanya ke kota. Wahai Izrail ! Dengan perjalanan waktu dan upaya yang gigih, anak itu akhirnya menjadi seorang raja. Namun dia ingkar dan menampakkan permusuhan denganku. Aku utus Ibrahim supaya mengenalkan padanya tentang Aku. Akan tetapi Raja Namrud itu malah berkata “Aku adalah tuhan bumi dan aku menyatakan perang terhadap tuhan langit !”
Seorang raja sombong yang mengaku sebagai tuhan diakhiri hidupnya oleh Allah dengan seekor nyamuk yang nemplok di bibirnya. Namrud ingin mengusirnya dengan meniup bibirnya, namun nyamuk itu malah masuk ke dalam hidungnya. Namrud berusaha mengeluarkannya lagi, namun nyamuk tersebut malah naik bersama nafasnya dan terbang berkelana menyiksa benak Namrud hingga dia mati.
“Wahai anak Adam, betapa seringnya kalian melupakan Ku dan kafir kepada Ku. Aku tidak pernah berbuat aniaya terhadap hamba-hamba Ku. Sampai kapankah kaliyan mengingkari nikmat-nikmat Ku, sementara rezeki kaliyan menghampiri kalian setiap hari dari sisi Ku.
Sampai kapankah kalian akan mengingkari ketentuan-ketentuan Ku, padahal tidak ada tuhan melainkan Aku ? Sampai kapankah kalian akan melupakan Aku, padahal Aku tidak pernah melupakan kalian ? Apabila kalian mencari seorang tabib untuk mengobati sakit pada tubuh kalian, lantas, siapakah yang akan menyembuhkan kalian dari dosa-dosa kalian ?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar